Showing posts with label gender. Show all posts
Showing posts with label gender. Show all posts

What I've Been Thinking About Emancipation

These are some of the thoughts:
1.More female in more social role.
Our society to some extent needs a balancing approach in many aspects of life; which has been overly dominated by man culture. There are roles/jobs that are best done by women for their femaleness. Some jobs require accuracy over speed, content over ambition. Our bureaucracy needs to be more sensitive, more listening, more empathy. Again, is to balance, not to be dominating. Since woman generally has more femaleness that man, inevitably she will have a certain different approaches from what man has. But this is just a quick generalization; some men may have more of female strong points over women in common (that also work otherwise).

Yes, caring and nursing are probably more suitable for woman than man. Fighting and shooting are done best mostly by men. But, why not a female fire fighter if she meets all the requirements like strength, energy and others. And so what if a man being a nurse as long as he is capable of caring and treating.

2. We need a fair labor division
Every work needs person in charge of leading, and other to assist. It doesn't imply that a leader should be a man, and woman is only capable as an assistant of male leader. Sometimes I think we've been too long underestimating the capability of women as well as underestimating the role of assistants. Both, woman and man can take both crucial positions (since one role is nothing without the other). As long as they meet the expected result of the role.

3. Emancipation is not domination in disguise
This emancipation thing has feared men along history because they think they'll have their wives lying on the couch watching TV while they ended up in the kitchen sink. I, personally thing this shows how shallow their thinking is. But no.... I won't let my future husband does the dishes (OK... maybe sometimes). I know (like all woman knows) that most wives did the housekeeping better than their partners and husbands were good in plumbing and nailing things.

Just don't limit your expectations. If somehow you find your wife is better at painting the walls while you do perfect laundry, why not do what one best at?

4. Redefinition of so called “Kodrat”
One of comments I received from my previous notes is that Kartini aimed for educating women to do best in their duty as a woman, which are bearing and educating kids, cooking, and other housekeeping.

While I don’t want to argue about Kartini’s ideas and what she implied, I kind of annoyed by this sexist female-male duties.

First it implies that all woman; all of them should build own family, bear several kids, and hopefully dedicated their lives to raise good civilians. OK..... I myself want to get married, have kid one or two and raise them. But, not all women share my dream; that KB’s dream. Some women don’t want to have own family, don’t want to get married, don’t want to raise any too (ever or yet!). They just have different dreams that might be so peculiar, so odd that it is to be called “menyalahi kodrat”.

Think about nuns, think about hermits, think about persons like Mother Teresa, and think about some women of the church who committed to celibacy. Well, practically they are stepping out of so called woman ultimate duty. But no one ever condemned them since they are taking religious responsibility. You may say they are doing God’s business but again what we call God’s business is basically service; a public service. So how about a female environment activist who decided not to get married or have any child in order to dedicate her life for her work. She is contributing something for our society, right?! Just like those nuns.

What we perceived as Kodrat is sometimes misleading. The same can be applied to man. Is man ultimate duty is to be husband, father (biologically)?? Well, if the answer is yes then we must think over the roles like pastors, monks, and so on.

Kartini, riwayatmu kini...

Seorang teman mengajak saya untuk jadi tamu 'on air' di sebuah radio swasta Jogja. Temanya tentang perempuan atau wanita (sama sajalah kecuali anda seorang fanatik diskursus kajian budaya), menyambut Hari Kartini yang secara tak resmi (tak tertera di kalender) diperingati besok 21 April. Bingung karena bakal disandingkan dengan beberapa orang yang CV-nya lebih menjual dari saya dan hmm... mungkin suaranya jatuh lebih empuk di telinga pendengar. Namun, ok-lah sebagian dari saya berkata kenapa tidak?!

Hari Kartini... basi dan klise? Mungkin sekali, saya tidak bisa bilang tidak setuju. Hari yang telah dilumatkan hanya sebatas seremonial dan simbolisasi monoton tak berkembang. Yang paling sibuk di Hari Kartini adalah anak-anak TK setengah dipaksa berias dan berdandan ala ibu darma wanita dengan kebaya dan wiron. Yang laki-laki sama saja bedanya mereka memakai pakaian untuk laki-laki. Dan anehnya ini diamini sebagai upaya menanamkan semangat perjuangan Kartini. Sungguh tidak masuk akal. Selain anak TK, ibu-ibu pejabat juga akan sibuk membuat acara yang sama sekali tidak substansial dengan memakai kebaya baru tiap tahunnya. Demi memperingati Kartini katanya. Yang terlihat oleh saya hanyalah pameran dan kompetisi busana yang semakin mempertegas prejudis bodoh, wanita hanya bisa bersolek!!

Saya tidak anti bersolek dan tidak anti kebaya, nyatanya saya memakai kebaya di dua kali hari kelulusan. Perempuan perlu cantik, kenapa tidak. Tapi bukan "perempuan-perlu-cantik-saja" yang dewasa ini disempitkan dengan serangkaian indikator khas inferioritas negara bekas jajahan; putih, tinggi langsing, rambut lurus (sebagian diwarnai kebule-bulean), dada besar dan menonjol, hidung mancung, dan lainnya. Apa yang terjadi di Hari Kartini semakin memperkuat hal tersebut. Memang dia terbungkus nasionalisme, tapi lagi-lagi nasionalisme sempit dan sedikit munafik yang diwakili oleh kebaya dan baju adat lainnya. Kita kan sedang merayakan semangat Kartini bukan Bhineka Tunggal Ika.

Kartini memang dalam tiap foto yang kita miliki tentangnya memakai kebaya tapi karena di eranya, kebaya adalah pakaian sehari-hari, casual wear!! Hanya saja kita biarkan visual kita mendikte pikiran. O itu Kartini dalam kebaya, jadi memperingatinya haruslah dengan kebaya. Salah besar!!! Saya yakin Kartini tidak akan keberatan dengan perkembangan busana (mungkin dia sedikit mendukung pula karena memakai kebaya atau baju adat manapun sangat merepotkan). Dia pasti tak mengapa bila kita memperingati semangatnya dengan memakai jins dan kaos biasa. Perempuan bukanlah apa yang dipakainya bukan??

Hari Kartini... dari penamaannya saja hari ini sangat bertendensi mereduksi maknanya. Ok kita cukup bangga hanya ada satu nama pahlawan dalam hari-hari besar Indonesia dan itu dipersembahkan pada seorang perempuan. Namun, coba pikirkan betapa sempit kata Hari Kartini tersebut. Pikiran kita harus berpikir dua kali, mengingat Kartini lalu mengidentikannya dengan semangat emansipasi perempuan. Itu pun kalau Kartini mengaungkan itu di pikiran kita. Kebanyakannya yang pertama terlintas setelah mendengar Hari Kartini adalah imaji dan fotonya dengan sanggul dan kebaya Jawa dan ini terus menerus direproduksi dan dilatenkan melalui perayaan semacam tadi. Inilah akibatnya terlalu mengidolisasikan figur. Yang tertinggal hanya foto dan atribut bukan tulisan, bukan pemikiran.

Coba bandingkan dengan 2 Mei, Hari Pendidikan Nasional adalah hari lahirnya Ki Hajar Dewantara dan tidak dinamai Hari Ki Hajar Dewantara, kalau tidak peringatan 2 Mei akan menjadi parade orang-orang memakai songkok. Atau 10 November sebagai Hari Perang di Surabaya bukan Hari Pahlawan, bisa-bisa semasa sekolah setiap peserta upacara diwajibkan memakai pakaian militer dan memanggul senjata. Bisa gawat, karena hari indoktrinasi nasionalisme dan patriotisme semakin sempit menjadi hari indoktrinasi militerisme. Weleh...weleh...

Jadi, bagaimana seharusnya Hari Kartini itu menurut saya? Pertama, bagaimana kalau menyebutnya Hari Perempuan saja atau Hari Kesetaraan? Lebih kena sasaran, universal, mudah dimengerti, dan sulit dipusingkan dengan atribut-atribut tak penting (paling tidak sampai masyarakat kita kembali ke hobinya dengan simbol dan atribut). Kartini (lagi-lagi menurut saya) tidak akan keberatan bila namanya perlahan-lahan luruh seiring terserapnya citra dan ikonisasi dirinya dalam sebuah semangat emansipasi yang menebal.

Yang kedua, bagaimana kalau di tingkat TK, kita sudahi saja pemakaian kebaya dan parade pakaian adat itu? Pindahkan ke Hari Kemerdekaan (itu juga dengan catatan tanpa paksaan, namanya juga merdeka -jadi catatan juga untuk pakaian rapi lengkap setiap upacara 17 Agustus) atau buat hari lain, Hari Budaya atau apalah (lagi-lagi tanpa paksaan). Cukup anak-anak TK baik yang perempuan dan laki-laki mengikuti acara masak bersama, atau mencuci baju bersama, atau main bola bersama, atau memaku pigura bersama. Acara-acara yang bisa memusnahkan konsep pekerjaan dan gender role yang seksis dan diskriminatif.

Tingkat sekolah yang lain juga bisa menerapkan hal yang sama. Berkunjung ke dapur restoran misalnya, melihat begitu banyak koki berkelamin laki-laki atau mewawancarai ibu-ibu tukang parkir, mas-mas perawat, bencong, atau apalah. Banyak hal bisa dilakukan untuk meruntuhkan bangunan gender yang mengekang itu. Atau dari pada sekedar menghapalkan nama kumpulan surat-surat pemikiran Kartini, mengapa tidak membaca, menganalisis, mengkritisi, dan mengapresiasinya?

Sehingga, habis gelap terbitlah terang...